Kenapa ITB? & STEI ITB

Kenapa Saya Memilih ITB

Awalnya saya mengenal ITB sebatas “kampus teknik tertua di Indonesia”. Semakin saya cari tahu, semakin jelas bahwa yang menarik bukan umurnya, melainkan alasan kampus ini berdiri.

ITB lahir di Bandung pada 1920, di tengah Perang Dunia I, ketika jalur transportasi dan komunikasi antara Belanda dan Hindia Belanda terputus. Pasokan insinyur dari Eropa terhenti, jadi sekolah tekniknya dibangun langsung di sini. Kampus ini memang lahir dari kebutuhan yang sangat nyata.

Kenapa STEI, kenapa elektro

Ketertarikan saya ke elektro berangkat dari hal yang sederhana: penasaran bagaimana listrik bisa sampai ke rumah saya, dan bagaimana sinyal yang tidak terlihat bisa membuat dua perangkat saling bicara. Semakin dipelajari, semakin terasa bahwa hampir semua teknologi hari ini berdiri di atas dua hal itu — energi dan informasi.

Saya memilih STEI ITB karena di sanalah keduanya dipelajari secara serius dan berdampingan. Saya juga sadar diri: saya butuh lingkungan yang menuntut dan dikelilingi orang-orang yang lebih jago, supaya saya tidak punya pilihan selain bertumbuh.

Tiga hal yang ingin saya dalami

  • Sistem tenaga dan energi terbarukanPemerataan listrik dan transisi energi masih jadi PR besar Indonesia. Saya ingin ikut mengerjakan bagian itu.
  • Sistem kendali dan elektronikaBelajar merancang sistem yang bisa mengukur, mengambil keputusan, lalu bergerak sendiri.
  • Telekomunikasi dan sistem tertanamMenyambungkan perangkat-perangkat sederhana menjadi sistem yang berguna, terutama untuk daerah yang belum terjangkau.